POHON DI DEPAN RUMAH
Copyright©2005, BISMA (SJAWAL)
Pagi yang bening.
Aku menatap pohon di depan rumah. Dengan kokoh ia berdiri setiap hari tanpa lelah,
Aku heran, apa sebenarnya yang ia lakukan?
Sebab bagi aku sebagai manusia, setiap pagi haruslah telah memiliki kegiatan yang bertujuan. Mengisi kehidupan.
Aku terhenyak ketika tiba-tiba, pohon di depan rumah menyapaku
“Kenapa kamu mempertanyakanku……?
Tidakkah kau lihat, anak-anakmu bermain-main riang terlindungi teriknya matahari…?
Cobalah kau rasakan semilirnya angin dengan goyangan daun-daunku………..………?
Tidakkah kau rasakan segarnya nafasmu, dengan aku berfungsi sebagai pemasok tunggal kebutuhan oksigen dari kotornya udara yang ada disekitarmu……..?”
Pohonku terus berbicara, disaat aku belum lagi mampu merinci setiap manfaat yang baru saja ia selesai kalimatkan.
Karena saat itu begitu terpakunya aku, melihat manfaatnya yang begitu nyata tidak terbantahkan!
Sampai saat kalimat terakhir ia berkata:
“Semuanya ku lakukan bukan untuk manfaatku. Karena aku tumbuh dan hadir di bumi ini hanya untuk melengkapi kehidupanmu, memberikan manfaat bagimu.
Demikian ku lakukan dengan amat tulus ikhlas, dan aku tak pernah ingin menyebutkannya disisiku sebagai pengorbananku, karena aku tidak pernah merasa berkorban, aku menyukainya dapat hidup bersamamu”
Demikian keesokan harinya, dan untuk setiap pagi, aku selalu menyapanya.
Pohon di depan rumahku, kau sahabatku, sahabat manusia yang sejati, yang dalam diammu kau tak henti memberikan manfaatmu
Sampai………., beberapa minggu kemudian, pagi itu aku tak melihatmu lagi
Kaget! Aku segera mencari istriku dan menanyakan apa gerangan yang terjadi
Dia menjawab polos, “Kita butuh halaman yang lebih luas, ku minta tukang kebun memotongnya………”
Hilanglah sahabat bagi manfaatku, hanya karena engkau tidak mampu berbicara, tidak seharusnya manusia tidak mengerti akan dirimu.
Karena selalu saja, manusia berbicara untuk tujuan manfaat sederhana, sedangkan kamu tidak mampu untuk menyanggah bicara, bahwa manfaatmu jauh melebihi semua manfaat itu
Sekarang…….. aku hanya bisa menyapa pohon-pohon lainnya.
Semoga….
Pagi yang bening.
Aku menatap pohon di depan rumah. Dengan kokoh ia berdiri setiap hari tanpa lelah,
Aku heran, apa sebenarnya yang ia lakukan?
Sebab bagi aku sebagai manusia, setiap pagi haruslah telah memiliki kegiatan yang bertujuan. Mengisi kehidupan.
Aku terhenyak ketika tiba-tiba, pohon di depan rumah menyapaku
“Kenapa kamu mempertanyakanku……?
Tidakkah kau lihat, anak-anakmu bermain-main riang terlindungi teriknya matahari…?
Cobalah kau rasakan semilirnya angin dengan goyangan daun-daunku………..………?
Tidakkah kau rasakan segarnya nafasmu, dengan aku berfungsi sebagai pemasok tunggal kebutuhan oksigen dari kotornya udara yang ada disekitarmu……..?”
Pohonku terus berbicara, disaat aku belum lagi mampu merinci setiap manfaat yang baru saja ia selesai kalimatkan.
Karena saat itu begitu terpakunya aku, melihat manfaatnya yang begitu nyata tidak terbantahkan!
Sampai saat kalimat terakhir ia berkata:
“Semuanya ku lakukan bukan untuk manfaatku. Karena aku tumbuh dan hadir di bumi ini hanya untuk melengkapi kehidupanmu, memberikan manfaat bagimu.
Demikian ku lakukan dengan amat tulus ikhlas, dan aku tak pernah ingin menyebutkannya disisiku sebagai pengorbananku, karena aku tidak pernah merasa berkorban, aku menyukainya dapat hidup bersamamu”
Demikian keesokan harinya, dan untuk setiap pagi, aku selalu menyapanya.
Pohon di depan rumahku, kau sahabatku, sahabat manusia yang sejati, yang dalam diammu kau tak henti memberikan manfaatmu
Sampai………., beberapa minggu kemudian, pagi itu aku tak melihatmu lagi
Kaget! Aku segera mencari istriku dan menanyakan apa gerangan yang terjadi
Dia menjawab polos, “Kita butuh halaman yang lebih luas, ku minta tukang kebun memotongnya………”
Hilanglah sahabat bagi manfaatku, hanya karena engkau tidak mampu berbicara, tidak seharusnya manusia tidak mengerti akan dirimu.
Karena selalu saja, manusia berbicara untuk tujuan manfaat sederhana, sedangkan kamu tidak mampu untuk menyanggah bicara, bahwa manfaatmu jauh melebihi semua manfaat itu
Sekarang…….. aku hanya bisa menyapa pohon-pohon lainnya.
Semoga….

0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home